⚠ Publikasi dummy — seluruh isi halaman ini (judul, penulis, dan konten) adalah contoh tampilan, bukan publikasi resmi. Akan diganti dengan konten asli.
Cover Taksonomi ARC: Kerangka Pembelajaran Holistik untuk Pendidikan Islam

Taksonomi ARC: Kerangka Pembelajaran Holistik untuk Pendidikan Islam

Penulis: Penulis 1, Penulis 2

Editor: Nama Editor

20 Jul 2026 · Riset, Kurikulum

Publikasi ini memaparkan kerangka Taksonomi ARC (Annawawi Rabbani Curriculum) yang menyatukan ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif dalam satu kerangka penilaian pembelajaran, beserta struktur level dan indikatornya.

1. Pendahuluan

Kurikulum pendidikan Islam kontemporer menghadapi tantangan ganda: mempertahankan integritas nilai-nilai keislaman di satu sisi, dan menjawab tuntutan kompetensi abad ke-21 di sisi lain. Taksonomi pembelajaran konvensional yang banyak diadopsi — seperti taksonomi Bloom — memisahkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik ke dalam domain yang berjalan sendiri-sendiri.1 Akibatnya, proses asesmen sering gagal menangkap keterpaduan antara pengetahuan, keterampilan fisik, dan kondisi hati peserta didik.

Annawawi Institute mengembangkan Taksonomi ARC (Annawawi Rabbani Curriculum) sebagai kerangka alternatif yang menyatukan tiga ranah tersebut dalam satu struktur hierarkis. Tulisan ini memaparkan dasar pemikiran, struktur, dan implikasi praktis kerangka tersebut.

2. Landasan Konseptual

Kerangka ARC bertolak dari pandangan bahwa pembelajaran yang utuh harus menyentuh tiga dimensi sekaligus:

RanahFokusContoh Tujuan
Akal (Cognitive)Proses berpikir dan kognitifMenganalisis dalil dan menyusun argumen
Fisik (Physical)Kemampuan fisik dan motorikMelaksanakan praktik ibadah dengan benar
Hati (Heart)Aspek afektif dan spiritualMenumbuhkan keterikatan emosional terhadap ilmu

Ketiga ranah ini tidak dipandang sebagai silo yang terpisah, melainkan sebagai lapisan yang saling menguatkan. Ranah hati menjadi fondasi, ranah akal menjadi penggerak, dan ranah fisik menjadi perwujudan nyata.2

3. Struktur Taksonomi

Setiap ranah disusun dari sub-ranah, level, dan indikator spesifik. Sebagai ilustrasi, ranah Akal memuat dua sub-ranah:

  • Information Processing (IP1–IP4) — dari Retrieval hingga Implementation, dengan indikator seperti Recognize, Analyzing Error, dan Generating.
  • Mental Procedure (MP1–MP3) — dari Executing hingga Implementing, yang menekankan prosedur berpikir.

Level dalam ARC tidak hanya mengurutkan kesulitan, tetapi juga memetakan kedalaman penguasaan: peserta didik dikatakan menguasai suatu kompetensi apabila mampu melampaui level Retrieval menuju level Generating pada ranah yang relevan.3

4. Implikasi Praktis

Penerapan ARC membawa tiga konsekuensi langsung pada praktik asesmen:

  1. Asesmen terpadu — satu instrumen dapat mengukur tiga ranah sekaligus, bukan tiga instrumen terpisah.
  2. Pelaporan bermakna — profil peserta didik digambarkan sebagai peta level per ranah, bukan sekadar skor tunggal.
  3. Desain pembelajaran terarah — pendidik merancang aktivitas yang secara eksplisit menargetkan level tertentu pada ranah tertentu.

Hasil uji coba awal di lingkungan sekolah mitra menunjukkan bahwa guru lebih mudah mengidentifikasi kebutuhan intervensi ketika profil belajar dirinci per ranah, dibandingkan pendekatan skor agregat.4

5. Kesimpulan

Taksonomi ARC menawarkan kerangka yang lebih utuh bagi pendidikan Islam dengan menyatukan ranah akal, fisik, dan hati dalam satu struktur penilaian yang hierarkis dan terukur. Kerangka ini masih terbuka untuk penyempurnaan, khususnya pada pengembangan instrumen asesmen untuk ranah Hati yang hingga kini masih menjadi wilayah yang paling sulit diukur secara objektif.

Daftar Pustaka

  1. Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. New York: Longman.
  2. Al-Attas, S. M. N. (1980). The Concept of Education in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  3. Lim, S., Jeong, H., & Kim, Y. (2023). Holistic learning assessment frameworks in Islamic education. Journal of Curriculum Studies, 55(3), 310–328.
  4. Annawawi Institute. (2026). Laporan uji coba instrumen asesmen ARC (Laporan internal). Bogor: PT. Annawawi Edukasi Global.


  1. Anderson & Krathwohl (2001) membagi domain pembelajaran menjadi kognitif, afektif, dan psikomotorik, namun praktik asesmen di lapangan cenderung berfokus pada ranah kognitif. ↩︎

  2. Pandangan ini sejalan dengan konsep ta’adib Al-Attas (1980), yang menempatkan adab dan kondisi batin sebagai prasyarat penguasaan ilmu. ↩︎

  3. Pemetaan level mengadopsi prinsip learning progression dari literatur asesmen formatif; bandingkan Lim, Jeong, & Kim (2023). ↩︎

  4. Uji coba dilakukan pada semester genap 2025/2026 di tiga sekolah mitra; lihat Annawawi Institute (2026). ↩︎